![]() |
| pict. google |
Sering kita mendengar istilah yang mungkin sudah tidak asing asing lagi yaitu pembunuhan karakter (character assassination). Ini bukan pembunuhan dalam artian fisik, tetapi tindakan membunuh reputasi,nama baik,moral dan integritas seseorang. Akibatnya sedemikian besarnya sehingga kadangkala ‘aib’ itu terus terbawa hingga ke liang kubur. Jadi sama konsekuensinya seperti dihukum mati.
Cara yang dilakukan bisa dengan menyebarkan rumor, fitnah, innuendo (berita-berita miring) dari seseorang, bahkan dengan kecanggihan teknologi seseorang bisa terjebak dalam situasi ’seolah-olah benar’. Tokoh yang akan ‘dihabisi’ tentu bukan orang kebanyakan, tetapi musuh besar yang membahayakan si pelaku pembunuhan karakter.Oleh karena itu mungkin benar adanya, ucapan dari Jenderal AH Nasution yang mengatakan bahwa Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Contoh pembunuhan karakter yang paling sensasional adalah skandal politik di Perancis pada tahun 1894 yang dikenal dengan nama affair Dreyfus. Alfred Dreyfus adalah seorang perwira angkatan darat Perancis keturunan Yahudi yang dijatuhi hukuman seumur hidup sebagai pengkhianat karena membocorkan rahasia negara kepada Jerman. Berbagai bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak bersalah tidak menyurutkan pengadilan menjatuhkan hukuman kepadanya.Dia menjalani hukuman penjara sepuluh tahun sebelum akhirnya terbukti bahwa semua tuduhan itu adalah ‘palsu’ dan merupakan perbuatan dari pihak-pihak yang tidak menyukainya.
Karena pembunuhan karakter dilakukan dengan cara memfitnah, maka faktor kebohongan memegang peran yang amat menentukan. Semakin besar kebohongan itu,semakin dia meyakinkan, itu kata Joseph Goebbel, seorang menteri ahli propaganda tangan kanan Hitler pada zaman rezim Nazi. Dan pada abad ke 15 seorang ahli strategi politik Italia bernama Niccolo Machiavelli menulis dalam bukunya bahwa tujuan menghalalkan cara ( the ends justify the means). Pemikiran ini kemudian melahirkan istilah Machiavellism yang bermaknakan taktik yang licik. Dua ’prinsip’ inilah yang dianut pelaku pembunuhan karakter.
Kata assassination sendiri diambil dari kata assassin yang merupakan serapan kata dari bahasa Arab hashshashin ( arti harafiahnya pemakai hashih atau opium).Hashashin adalah kelompok pembunuh di abad 8 sampai 14 yang konon menggunakan madat untuk ’menguatkan jiwa’ mereka pada saat membantai lawan ideologi atau agama mereka.
Jadi menyandang gelar assassination memang bukan pembunuhan ’biasa’, tapi lebih didasarkan pada alasan tertentu seperti ideologi, politik atau perebutan kekuasaan.
