Pengertian Pendidikan Tauhid

Jejak Pendidikan- Pendidikan merupakan hal yang penting bagi kehidupan setiap manusia. Dengan pendidikan itulah manusia dapat berkembang dan maju dengan baik. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat kebudayaan dan peradabannya.

Apabila dilihat dari pengertiannya, pendidikan berasal dari kata didik yang mendapat awalan pe dan akhiran an menjadi pendidikan yang mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan semula berasal dari bahasa Yunani, paedagogie yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Inggris pendidikan diterjemahkan dari kata education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab pendidikan diterjemahkan dari kata tarbiyah.

Menurut UU Sisdiknas Pasal 1 No. 20 Tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai:
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sedangkan pendidikan menurut para tokoh, pengertian pendidikan adalah sebagai berikut:

a. Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan pertumbuhan nilai moral (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tumbuh anak yang antara satu dengan yang lainnya saling berhubungan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras.


b. M.J. Langeveld
M.J. Langeveld menyatakan bahwa pendidikan adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju kearah kedewasaan.

c. Noor Syam
Noor Syam menjelaskan bahwa secara praktis, pendidikan tidak dapat dipisahan dengan nilai-nilai, terutama yang meliputi kualitas kecerdasan, nilai ilmiyah, nilai moral dan nilai agama yang kesemuanya tersimpul dalam tujuan pendidikan, yakni membina kepribadian yang ideal.

Dari beberapa pengertian pendidikan ini ada titik temu dalam hal tujuan pendidikan. Secara sederhana pendidikan berarti suatu yang tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai yang berupa daya upaya atau memberikan pertolongan secara sadar kepada anak agar dapat tumbuh memajukan kesempurnaan hidup dan menuju kearah kedewasaan sebagaimana yang tersimpul dalam tujuan pendidikan.

Kata tauhid adalah bentuk kata mashdar yaitu wahhada–yuwahhidu-tawhiidan yang memiliki arti mengesakan atau menunggalkan. Maksudnya adalah keyakinan atau pengakuan terhadap keesaan Allah. Sedangkan tauhid secara istilah menurut para tokoh ilmu tauhid adalah sebagai berikut:

a. Muhammad Abduh
Muhammad Abduh mengatakan bahwa tauhid adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah dan sifat-sifat yang wajib ada pada-Nya dan sifat yang boleh ada pada-Nya dan sifat yang tidak harus ada pada-Nya (mustahil), ia juga membahas tentang para Rasul untuk menegaskan tugas risalahnya, sifat-sifat yang wajib ada padanya yang boleh ada padanya (jaiz) dan yang tidak boleh ada padanya (mustahil).

b. Husain Affandi Al Jisr At-Tharablusy
Husain Affandi Al Jisr At-Tharablusy mengartikan bahwa tauhid adalah ilmu yang membahas atau membicarakan bagaimana menetapkan aqidah (agama Islam) dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan.

c. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif
Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif menjelaskan bahwa tauhid adalah mengesakan Allah SWT, baik dalam hal rububiyah, uluhiyah maupun kesempurnaan asma’ dan sifatNya.

Dengan demikian, secara sederhana pendidikan tauhid memiliki arti suatu proses bimbingan untuk mengembangkan dan memantapkan kompetensi seorang muslim dalam mengenal keesaan Allah SWT. Menurut Hamdani pendidikan tauhid yang dimaksud disini adalah:
Suatu upaya yang keras dan bersungguh-sungguh dalam mengembangkan, mengarahkan, membimbing akal pikiran, jiwa, hati dan ruh kepada pengenalan (ma’rifat) dan cinta (mahabbah) kepada Allah SWT. Dan melenyapkan segala sifat, af’al, asma’ dan dzat yang negatif dengan yang positif (fana’ fillah) serta mengekalkannya dalam suatu kondisi dan ruang (baqa’ billah). 

Rujukan:
  1. Jalaluddin dan Abdullah, Filsafat Pendidikan Manusia, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997)
  2. Husain Affandi Al-Jisr, Al Hushunul Hamidiyah, (Surabaya: Ahmad Nabhan, 1970), 
  3. M. Hamdani B. DZ., Pendidikan Ketuhanan Dalam Islam, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001)

Pembelajaran Menggunkan Gambar

Jejak Pendidikan- Guru sangat membutuhkan sarana-sarana yang membantunya dalam menyampaikan materi pelajaran dengan bentuk yang lebih afdhal dan lebih mudah.20 Diantara sarana-sarana itu antara lain gambar, proyektor, papan tulis, peta konsep, dan lain sebagainya. anda bisa membandingkan pembelajaran yang hanya menggunakan ceramah saja, dengan ceramah disertai dengan gambar dan alat lainnya. Pasti hasilnya lebih mengena yang ceramah dengan disertai dengan gambar.

Guru besar (Muhammad) Shallallahu alaihi wasallam telah mendahului sistem pendidikan modern empat belas abad yang lalu, dimana beliau membantu membantu ucapannya disebagian pembicaraannya dengan gambar-gambar yang akan mendekatkan makna kepada otak dan membantu menghafal, diataranya:

a. Dari Ibnu Mas’ud RA, dia berkata, Nabi SAW membuat garis segi empat dan membuat garis tengah keluar dari garis tersebut. Lalu membuat garis-garis kecil ke arah garis tengah dari garis yang ada di samping garis tengah seraya bersabda:
“Ini adalah manusia, dan ini adalah ajalnya yang mengitarinya dan garis-garis yang keluar ini adalah angan-angannya sementara garis-garis kecil ini adalah rintangan, jika yang ini tidak mengenainya, maka digigit oleh yang ini, dan jika yang ini tidak mengenainya, maka akan digigit oleh yang ini.”

b. Dari Abdullah bin Mas’ud R.A. dia berkata,
Rasulullah S.A.W membuat sebuah garis dengan tangannya kemudian bersabda,Ini adalah jalan Allah yang lurus.HR. Al-Bukhari
membuat garis di kanan dan kirinya kemudian bersabda, Jalan-jalan ini, tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali diantaranya ada setan yang menyeru kepadanya. Kemudain beliau membaca:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa ‟.” (Al-An’am: 153).
Setelahnya, kita tambahakan beberapa perkara lain, yaitu:
  1. Agar guru memperhatikan kejelasan mater yang ditulis atau yang digambar.
  2. Agar memastikan bahwa semua siswa dapat melihat materi yang ditulis atau yang digambar, dan menyingkirkan semua penghalang yang menghalanginya.
  3. Menggunakan (tinta/kapur) warna yang menyeragamkannya supaya menarik perhatian.


Kesimpulan:
  • Mendukung penjelasan dengan gambar dan tulisan akan menambah kuat penjelasan.
  • Menggabungkan antara gambar dan tulisan dengan metode ceramah membantu menyampiakan pelajaran dengan mudah dan lebih cepat.
  • Tulisan dan gambar haruslah jelas, dapat dilihat oleh semua siswa dengan memperhatikan tidak adanya penghalang-penghalang yang bisa menghalangi penglihatan siswa kedepannya.


Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, strategi poster commnet yang akan diterapkan tentunya relevan dengan teori. Stretegi poster comment ini menggunakan gambar yang bisa dilihat oleh semua siswa di kelas, kemudian siswa mengomentari dengan ide-idenya. Diharapkan setelah penerapan strategi ini pembelajaran lebih mudah dan cepat diiangat oleh siswa sehingga hasil belajarpun menjadi meningkat.




Rujukan:
Fu’ad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, Begini Seharusnya Menajdi Guru; Panduan Lengkap Metodologi Pengajaran Cara Rasulullah S.A.W, terj., Jamaluddin (Jakarta: Darul Haq, 2008).

Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid Dalam Kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-‘Aliy

Jejak Pendidikan- Nilai-nilai pendidikan tauhid yang terkandung dalam kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-‘Aliy, menjadi tiga nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku seorang muslim dalam hubungannya kepada Allah SWT, diri sendiri dan sesama manusia.

Agar memudahkan para pembaca dalam memahami nilai-nilai pendidikan tauhid yang terkandung dalam kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-‘Aliy Berikut ini adalah nilai utama yang dimaksud beserta deskripsi ringkasnya:

1. Nilai Pendidikan Tauhid Dalam Hubungannya Kepada Allah SWT

a. Nilai Rububiyah

“Tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung pada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Kemudian berpindah kepada cara-cara bertaqarrub kepadaNya.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa setiap muslim wajib memiliki tauhid secara rububiyah, karena itu adalah sebagai syarat

keabsahan dari tauhid uluhiyah sebagai syarat diterimanya suatu amal ibadah. Inti dari ajaran nilai rububiyah adalah sebagai berikut:
  • Rububiyah yaitu mengesakan Allah SWT dalam segala perbuatanNya dan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk di seluruh alam semesta.
  • Meniadakan sekutu atau pembantu bagi Allah dalam kekuasaanNya (Qs. Luqman: 11).
  • Allah menciptakan semua makhlukNya diatas semua fitrah pengakuan terhadap rububiyahNya.

b. Nilai Uluhiyah
تَوْحِيْدُ الاِلهَِيَّةِ ي قَُالُ لَهُ تَوْحِيْدُ العِباَدَةِ, بِاِعْتِبَارِ اَنَّ العُبُدِيَّةَ وَصْفُ
العَبْدِ حَيْثُ اِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ اَنْ يعَْبُدَ اللَّهِ مُخْلِصًا فِي ذَلِكَ
Artinya: “Tauhid uluhiyah disebut juga sebagai tauhid ibadah, karena ubudiyah adalah sifat ‘abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepadanya.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa dalam tauhid uluhiyah, seorang muslim wajib mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang telah disyari’atkan oleh Allah. Karena tauhid uluhiyah juga disebut sebagai tauhid ibadah. Inti ajaran dari nilai uluhiyah adalah sebagai berikut:
  • Uluhiyah yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari’atkan seperti do’a, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat).
  • Setiap muslim yang mengakui Allah secara uluhiyah maka ia harus merealisasikannya dengan beribadah kepada Allah seperti melaksanakan shalat, puasa, zakat dan haji.
  • Tauhid uluhiyah merupakan inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.
c. Nilai Asma’ wa Shifat
هَذِهِ الأَسمَْاءُ الكَرِيْمَةُ لَيْسَتْ مُجَرّدَ اَسمَْاءِ لاَ تَدُلُّ عَلَى مَعَانٍوَصِفَاتِ, بَلْ هِيَ اَسمَْاءٌ كَرِيْمَةٌ تَدُلُّ عَلَى مَعَانٍ جَليْلَةٍ وَصِفَاتٍعَظِيْمَةٍ Artinya: “Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama kosong yang tidak mengandung makna dan sifat, justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan makna yang mulia dan sifat yang agung.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa seorang muslim wajib beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya dan sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an dan sunnah rasulNya. Nama-nama ini memiliki makna yang mulia dan sifat Allah sangatlah berpengaruh baik bagi perilaku individu maupun perorangan dalam hubungannya kepada Allah. Inti ajaran dari nilai asma’ wa shifat adalah sebagai berikut:
  • Mengimani nama-nama Allah dan sifat-sifatNya.
  • Allah meniadakan sesuatu yang menyerupaiNya dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat.
  • Allah memiliki sifat-sifat yang terbagi menjadi dua bagian. Pertama adalah sifat dzatiyah dan bagian kedua adalah sifat fi’liyah.
  • Sifat dzatiyah seperti: al-‘ilmu, al-qudrah (kekuasaan), assam’i (mendengar), al-bashar (melihat), al-‘izzah (kemuliaan), al-hikmah, al-‘uluw (ketinggian), al- ‘adzomah (keagungan), al-wajhu (wajah). Kemudian sifat fi’liyah seperti: al-istiwa’ ‘alal ‘arsy (bersemayam diatas ‘Arsy), al-ityan dan al-maji’ (datang).

d. Nilai Taat Kepada Allah
فَهذِهِ المخَْلُوْقَاتُ صَامِتُهُ وَ نَاطِقَهَا وَحَيُّهَا وَمَيِّتتُهَا كُلُّهَا مُطِيْعَةُ لِللَّهِمُنْقَادَةُ لِأَمْرِهِ الكَوْنِيِّ Artinya: “Maka seluruh makhluk, baik yang berbicara maupun yang tidak, yang hidup maupun yang mati, semuanya tunduk kepada perintah kauniyah Allah.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa seluruh makhluk pada asalnya semuanya taat kepada Allah SWT secara ridha dan ikhlas. Taat kepada Allah. berarti patuh, tunduk dan setia kepada Allah. Inti ajaran nilai taat kepada Allah adalah sebagai berikut:
  • Mentaati dan konsisten terhadap syari’at Allah serta meninggalkan syari’at-syari’at lainnya.
  • Melaksanakan tugas sesuai dengan tugasnya masing-masing sebagai makhlukNya serta mematuhi peran yang diberikanNya.

e. Nilai Ihsan Kepada Allah
الاِحْسَا ن هُوَ يَجْمَعُ كَمَالُ الاِخْلَاصُ لِلَّهِ وَ بِاالحَسَنِ الَّذِي يُحِبُّهُ
Artinya: “Ihsan yaitu mengandung kesempurnaan ikhlas kepada Allah dan perbuatan baik yang dicintai oleh Allah.”
Keterangan diatas menunjukkan bahwa perbuatan ihsan kepada Allah adalah suatu daya dan upaya untuk senantiasa berbuat baik bahkan yang terbaik dalam mengabdi kepada Allah dengan segala cara dan upaya manusia itu sendiri. Inti ajaran dari nilai ihsan adalah senantiasa menyembah kepada Allah seolah-olah dia melihatNya. Jika dia tidak bisa melihatNya maka sesungguhnya Allah melihat dia.

2. Nilai Pendidikan Tauhid Dalam Hubungannya Kepada Diri Sendiri

a. Nilai Aqidah Shahihah
      عَقِيْدَةُ الصَّحِيْحَةُ هِيَ الأَسَاسُ الَّذِيْ يقَُوْمُ عَلَيْهِ الدِّيْنُ وَ تَصِحُّ مَعَهُ
الأَعْمَالُ
Artinya: “Aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal.”
Keterangan diatas menjelaskan bahwa di dalam agama Islam, seorang muslim harus memiliki aqidah yang benar (aqidah shahihah) agar memiliki ikatan yang kuat kepada Allah serta terhindar dari penyimpangan-penyimpangan aqidah. Inti ajaran dari nilai aqidah shahihah adalah sebagai berikut:
  • Aqidah adalah taufiqiyah, artinya tidak bisa ditetapkan selain menggunakan dalil syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah).
  • Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran bagi setiap muslim.
  • Sebab-sebab penyimpangan aqidah yaitu:

  1. Enggan mempelajari aqidah shahihah.
  2. Ta’ashshub (fanatik kepada sesuatu yang diwarisi dari nenek moyangnya sekalipun hal itu bathil.
  3. Taqlid buta dalam mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa diselidiki terlebih dahulu kebenarannya.
  4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih (Qs. Nuh: 23).
  5. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah.
  6. Rumah tangga yang kosong dari pengarahan yang benar menurut Islam.
  7. Kurangnya media pendidikan dan media informasi yang menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam.
  • Cara menanggulangi penyimpangan aqidah:

  1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dalam mengambil aqidah shahihah.
  2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah, aqidah salaf di berbagai jenjang pendidikan.

b. Nilai Shahihul Ibadah
العِبَادَاتُ تتَوْففِقِيَّةٌ بِمَعْنَى اَنَّهُ لاَيُشْرَعُ شَيْءٌ مِنْهَا اِلاَّ بِدَلِيْلٍ مِنَ الكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ
Artinya: “Ibadah adalah perkara taufiqiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Keterangan diatas menjelaskan bahwa ibadah yang benar (shahihul ibadah) adalah taat pada Allah dengan melaksakan ibadah sesuai dengan manhaj Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun inti ajaran dari nilai shahihul ibadah adalah sebagai berikut:
  • Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah SWT,baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin.
  • Istiqamah dalam beribadah dalam melaksanakan ibadah pada jalan tengah, tidak kurang atau lebih dan sesuai dengan petunjuk syari’at serta tidak melampaui batas.
  • Ibadah dilandasi oleh tiga pilar sentral, yaitu hubb(cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan).
  • Syarat diterimanya ibadah:

  1. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
  2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

c. Nilai Konsekuen Syahadatain
مُقْتَضَيُ الشَّهَادَتَيْنِ: هُوَ تَرْكُ عبَادَةِ مَاسِوَى اللَّهِ مِنْ جمَِيعِ الْمَعْبُودَاتِ وَ طَاعَةِ
الرَّسُولِ اللَّهِ, تَصْدِيْقُهُ وَتَرْكُ مَا نهََا
Artinya: “Konsekuensi syahadatain: Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang dipertuhankan dan mentaati Rasulullah, membenarkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa seorang muslim harus selalu menjaga konsekuen kalimat syahadatain yang telah ia ikrarkan dari hal-hal yang dapat membatalkannya. Inti ajaran dari nilai konsekuen syahadatain adalah sebagai berikut:
  • Makna syahadat laa ilaaha illallah yaitu beri’tiqad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah SWT.
  • Makna syahadat anna muhammadarrasulullah yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan serta mengamalkan konsekuensinya: mentaati perintahnya, membenarkan ucapannya dan menjauhi larangannya.
  • Pembatal syahadatain:

  1. Syirik dalam beribadah kepada Allah.
  2. Meyakini bahwa selain petunjuk Nabi SAW lebih sempurna dari petunjuk beliau atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau.
  3. Menghina sesuatu dari ajaran Islam.
  4. Sihir.
  5. Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam.
  6. Berpaling dari agama Allah.
d. Nilai Manhaj Salaf
كَانَ مَنْحَجُ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فِي تَلَقِّي العَقِيْدَةِ مَقْصُوْرًا
عَلَى الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
Artinya: “Manhaj salafus shalih dan para pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada Al-Qur’an dan As- Sunnah.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya senantiasa mengikuti jalan para ulama’ salafus shalih (para shahabat, tabi’in dan tabi’in) dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Inti ajaran dari nilai manhaj salaf adalah sebagai berikut:
  • Mengimani, menyakini dan mengamalkan segala apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  • Meneladani para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dengan cara mengikuti pemahaman mereka dalam memahami aqidah shahihah.
  • Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan kesatuan kata, kebenaran aqidah dan kesatuan manhaj.


3. Nilai Pendidikan Tauhid Dalam Hubungannya Kepada Sesama Manusia

a. Nilai Dakwah Tauhid
قِيَامِ دُعَاةِ مُصْلِحِيْنَ يُج دِّدُوْنَ لِلنَّاسِ عَقِيْدَةِ السّلَفِ وَيرَُدُّوْنَ ضَلَالاَتِ
المنُْحَرِفِيْنَ عَنْهَا
Artinya: “Menyebarkan para da’i (pendakwah) yang meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salafus shalih serta menjawab dan menolak seluruh aqidah bathil.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa untuk memperkuat aqidah pada diri setiap muslim di suatu daerah terutama pada wilayah yang jarang dijadikan sebagai medan dakwah maka peran para da’i (pendakwah) adalah terjun untuk berdakwah meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil. Adapun inti ajaran dari nilai manhaj salaf ini adalah sebagai berikut:
  • Memberikan pengajaran terhadap aqidah shahihah.
  • Mencegah manusia dari perbuatan yang dapat merusak aqidah.

b. Ihsan Kepada Manusia
الاِحْسَانُ هُوَ اِنْعَامُ عَلَى الغَيْرِ وَ اِحْسَانُ فِيْ فِعْلِهِ وَ ذلِكَ بِاِتْقَانِهِ
وَاِتْمَامِهِ
Artinya: “Ihsan yaitu memberikan kebaikan kepada orang lain dan memperbaiki perbuatannya dengan menyempurnakan dan membaikkannya.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa seorang muslim yang mulia adalah senantiasa berbuat kebaikan terhadap sesama, yakni segala sesuatu yang menyenangkan dan terpuji dan selalu menginstropeksi dirinya setiap waktu. Adapun inti ajaran dari nilai ihsan kepada manusia adalah sebagai berikut:
  • Ihsan adalah berbuat suatu kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain.
  • Allah mencintai hambanya yang berbuat ihsan (Qs. Al-Baqarah: 112).

c. Wala’ dan Bara’
وَ مَكَانَةُ الوَلاَءِ وَالبَرَاءِ فِي الاِسْلَامِ مَكَانَةٌ عَظِيْمَةٌ, وُجُوْبُ مُوَالاَةِ
المؤُْمِنِيْنَ وَمُعَادَةِ الكَافِرِيْنَ
Artinya: “Kedudukan wala’dan bara’ dalam Islam sangatlah mulia, wajib loyalitas kepada mukmin dan memusuhi orang-orang kafir.”

Keterangan diatas menunjukkan bahwa setiap muslim wajib menjaga kesatuan dan persatuannya terhadap orang-orang mukmin dan menjauhi orang-orang kafir dalam hal ajaran agama mereka. Adapun inti ajaran dari nilai wala’ dan bara’ adalah sebagai
berikut:
  • Wala’ artinya dekat. Yang dimaksud dengan wala’ disini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan mencintai, membantu dan menolong mereka (Qs. Al-Mujadilah: 22).
  • Bara’ artinya memutus. Yang dimaksud dengan bara’ adalah memutus ikatan hati dengan orang-orang kafir sehingga tidak lagi mencintai, membantu dan menolong mereka (Qs. Al-Maidah: 51).
  • Kedudukan al-wala’ wal bara’ dalam Islam sangatlah tinggi, karena dialah tali iman yang paling kuat.


Rujukan:
Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-‘Aliy, (Mesir: Penerbit Darul Aqidah, 1993).

Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-Hari.

Jejak Pendidikan- pendidikan tauhid adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai tauhid kepada masyarakat guna memperkuat keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Pengalaman tauhid merupakan pengalaman yang bersifat suci, maka pengalaman ini dalam kehidupan manusia akan menjadi sumber inspirasi kehidupan jiwa dan pendidikan kemanusiaan yang tinggi. Hal ini disebabkan tauhid akan mendidik jiwa setiap manusia untuk mengikhlaskan seluruh hidup dan kehidupannya hanya kepada Allah semata. 

Tujuan hidup hanyalah kepada Allah dan mengharap atas segala keridhaan-Nya, yang akhirnya akan membawa konsekuensi pembinaan karakter yang agung dan menjadi manusia yang suci, jujur dan teguh memegang amanah Allah. Berikut ini adalah nilai-nilai pendidikan tauhid dan implikasinya dalam kehidupan sehari-hari:

1. Nilai Rububiyah dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam kehidupan ini, manusia akan selalu merasakan berbagai manfaat dan kenikmatan yang tak terhitung dan tidak akan mampu disebutkan satu per satu. Karena hal ini menunjukkan bahwa luasanya rahmat Allah, benar-benar adanya Dia serta kebaikanNya terhadap makhlukNya. Semua itu akan mendorong kita untuk mengagungkan Yang Maha menciptakan dan membuatnya, mensyukurinya, senantiasa menggerakkan bibir untuk berdzikir padaNya dan mengikhlaskan agama ini hanya milik Allah. Maka, implikasi nilai rububiyah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Menjadikan manusia untuk konsisten dalam mengakui keesaan Allah sebagai Pencipta alam semesta serta mengetahui bukti-bukti tentang kebenaran seluruh ciptaanNya.
  • Mengingatkan manusia untuk selalu memikirkan ayat-ayat kauniyah.
  • Mengingatkan manusia untuk selalu memikirkan banyak nikmat dan ciptaan Allah SWT.

2. Nilai Uluhiyah dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah dan tauhid asma’wa shifat. Barangsiapa yang hanya beribadah kepada Allah dan beriman bahwa Dia-lah semata-mata yang berhak untuk disembah, maka itu menunjukkan bahwa ia beriman kepada rububiyahNya dan asma’ wa shifatNya. Maka, implikasi nilai uluhiyah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Mampu menata diri dan niat dalam melaksanakan ibadah mahdhah (ritual) untuk ikhlas hanya kepada Allah serta melaksanakannya sesuai dengan tata cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
  • Mampu menerapkan ibadah ‘ammah (sosial) secara adil dan bijak.

3. Nilai Asma’ wa Shifat dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Mengenal dan memahami nama-nama Allah SWT yang maha indah dan sifat-sifatNya yang Maha Sempurna merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam mewujudkan keimanan yang sempurna kepada Allah SWT. Maka, implikasi nilai asma’ wa shifat dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Konsisten dalam mengakui keesaan Allah yang memiliki asma’ (nama) dan sifat-Nya yang semuanya adalah husna (sangat baik).
  • Mengingatkan manusia untuk memperbanyak dzikir disetiap saat.
  • Mengajarkan manusia untuk mengenal nama-nama Allah SWT yang baik. 
  • Nilai Taat Kepada Allah dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketaatan kepada Allah tidak hanya asal taat begitu saja. Dalam pengimplementasiannya, ketaatan kepada Allah harus benar-benar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tanpa alasan apapun. Sebagai utusan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW mempunyai tugas untuk menyampaikan amanat kepada umat manusia tanpa memandang jabatan, suku dan sebagainya. Oleh karena itu bagi setiap muslim yang taat kepada Allah harus senantiasa melengkapinya dengan menaati segala perintah Rasulullah SAW sebagai utusannya. Maka, implikasi nilai taat kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Menjadikan manusia semakin dekat dan merasa mendapatkan pengawasan dari Allah.
  • Mengajarkan kepada manusia untuk bersabar dalam menjalani realita hidup.

4. Nilai Ihsan Kepada Allah dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari

Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan berbuat baik kepada makhluk-makhlukNya. Ketika beribadah kepada Allah, dia berusaha merasakan seolah-olah melihat dan menyaksikanNya. Jika seandainya tidak mampu menghadirkan hati untuk itu maka ia meyakini bahwa Allah sedang melihat atau menyaksikannya. Maka, implikasi nilai ihsan kepada Allah adalah sebagai berikut:
  • Mengajarkan kepada manusia untuk selalu berhusnuzhon terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.
  • Menerima segala kehendak yang Allah berikan baik berupa takdir yang baik maupun yang buruk.
  • Mengajarkan kepada manusia untuk berbuat baik bahkan yang terbaik dalam mengabdi kepada Allah.

5. Nilai Aqidah Shahihah dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Aqidah shahihah memberikan peranan yang besar dalam kehidupan seseorang, karena tanpa aqidah yang benar, seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka yang lama-kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkan dirinya dari jalan hidup kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus, seseorang akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh informasi yang menyesatkan keimanan. Maka, implikasi nilai aqidah shahihah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Menjadikan manusia yang memiliki keyakinan dan komitmen yang kokoh.
  • Menjadikan manusia lebih antisipatif terhadap paham-paham yang menyimpang dari aqidah shahihah.
  • Menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih terarah.

6.Nilai Shahihul Ibadah dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari

Hakikat dan landasan ibadah kepada Allah ialah cinta sempurna dan ketundukan yang sempurna kepadaNya. Barangsiapa mencintai sesuatu yang tidak dipatuhinya, maka ia tidak menghamba kepadaNya.

Demikian pula barangsiapa yang tunduk dan patuh kepada sesuatu yang tidak dicintaiNya, maka ia bukan menghamba kepadaNya. Maka, implikasi nilai shahihul ibadah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Mengajarkan manusia untuk senantiasa menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam melaksanakan suatu ibadah.
  • Mengikuti tata cara pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

7. Nilai Konsekuen Syahadatain dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari

Syahadatain (Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuwlullah) bukanlah sesuatu yang asing bagi setiap muslim. Bahkan lisan mereka seringkali melafalkan dua kalimat tersebut.

Namun boleh jadi banyak diantara kaum muslimin yang belum memahami kandungan makna dan hakikat syahadat tersebut. Maka, implikasi nilai konsekuen syahadatain dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Mengajarkan manusia untuk selalu konsekuensi terhadap apa yang telah ia ikrarkan kepada Allah dan RasulNya.
  • Mengajarkan manusia kepada keikhlasan dalam beribadah hanya untuk Allah dan menjauhkan diri dari kesyirikan.

8. Nilai Manhaj Salaf dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari

Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim dalam memahami agamanya. Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW di dalam sunnahnya. Sedangkan Allah telah berwasiat kepada kita:
Artinya: “…..kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. An-Nisaa’: 59)

Maka, implikasi nilai manhaj salaf dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Menjadikan manusia untuk senantiasa mengikuti pemahaman para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dalam mengambil aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  • Mengarahkan manusia untuk mengedepankan dalil naqli daripada aqli.

9. Nilai Dakwah Tauhid dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari

Agama Islam bila semakin jauh dari zaman kenabian sebagai sumber cahayanya, maka akan semakin besar kemungkinan seseorang akan terkontaminasi dengan berbagai penyimpangan dan syubhat sebagaimana air yang telah jauh dari sumbernya. Sudah banyak kejadian yang telah menjadi saksi akan hal ini, berapa banyak penyimpangan yang menyusup masuk ke dalam Islam dan berapa banyak pemikiran-pemikiran sesat yang tumbuh subur dan berkembang di negeri ini. 

Dengan demikian, dakwah kepada perbaikan aqidah harus senantiasa diprioritaskan kembali untuk menjaga dan membantah pemikiran-pemikiran sesat tersebut yang diusung oleh orang-orang yang berusaha menyelewengkan Islam dari manhajnya untuk menjauhkan manusia dari fitrah penciptaannya. Maka, implikasi nilai dakwah tauhid dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Menumbuhkan rasa kepedulian terhadap pengajaran aqidah dan tauhid.
  • Menumbuhkan rasa solid untuk menyeru kepada tauhid sebelum menyatukan umat dan mengajak manusia kepada agama Islam yang benar.
  • Mewujudkan manusia yang muwahhid (mengesakan Allah).

10. Nilai Ihsan Kepada Manusia dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari.

Keutamaan berbuat baik kepada sesama manusia merupakan buah keimanan yang mengantarkannya pada amal shaleh yang dimana Allah akan membalasnya dengan berbagai macam kebaikan pula. Karena hal ini akan memperkuat keimanan dan cinta akan kebaikan serta lebih mendekatkan diri kepadaNya dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah SWT. Maka, implikasi nilai ihsan kepada manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Menumbuhkan rasa saling tolong-menolong dalam hal kebaikan.
  • Mewujudkan manusia yang cinta akan kebaikan.

11. Nilai Wala’ wal Bara’ dan Implikasinya Dalam Kehidupan Sehari-Hari.

Wala’ wal Bara’ dapat didefinisikan sebagai penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai oleh Allah dalam hal perkataan, perbuatan dan kepercayaan. Maka, implikasi nilai wala’ wal bara’ dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
  • Menumbuhkan rasa respect, solid dan loyal terhadap umat Islam dan membenci sikap orang-orang kafir yang merusak Islam.
  • Mewujudkan persatuan Islam.

Macam-macam Media Pembelajaran

Jejak Pendidikan- Media yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran itu bermacam-macam, sepperti media gambar dan proyeksi. Kedua media ini termasuk pada media visual. Media visual, yaitu media yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. atau media yang dapat dilihat. Berikut ini penjelasannya:

Media gambar diam (still pictures) dan Grafis

Media ini adalah hasil potretan dari berbagai peristiwa objek yang dituangkan dalam bentuk gambar-gambar, garis, kata-kata, simbol-simbol maupun gambaran. Yang termasuk ke dalam kelompok media ini, antara lain:
  1. Grafik, yaitu gambaran dari data statistik yang ditunjukkan dengan lambang-lambang.
  2. Chart atau bagan, yaitu gambar dari sesuatu, yang menunjukkan adanya hubungan, perkembangan, atau perbandingan.
  3. Peta, yaitu gambar yang menjelaskan permukaan bumi atau beberapa bagian dari padanya.
  4. Diagram, yaitu penampung atau irisan dari sesuatu benda atau objek.
  5. Poster, yaitu gambar yang disederhanakan bentuknya dengan pesan biasanya menyindir.


Media dengan Proyeksi

Media ini adalah penggunaan media dengan menggunakan proyektor, sehingga gambar nampak pada layar. Yang termasuk dalam kelompok media ini, antara lain:
  1. Slide.
  2. Film strips
  3. Overhead Projector.
  4. Transparansi.
  5. Mikro film dan mikrofische.


Rujukan:
Nunuk Suryani dan Leo Agung, Strategi Belajar-Mengajar (Yogyakarta: Ombak, 2012).